-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PROYEK ASAL JADI: Sumur JIAT Milyaran Rupiah di Kabupaten Serang Mangkrak dan Tak Berfungsi, Petani Menjerit!

Thursday, 10 September 2026 | September 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-10T23:52:53Z


Serang Media Kriminalitas- Proyek pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) atau sumur jiat di wilayah Kabupaten Serang terus menjadi sorotan tajam. Program yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) melalui unit pelaksana teknisnya di daerah, yaitu Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) yang digadang-gadang menjadi solusi kekeringan bagi sektor pertanian di Desa Cikolelet (Kecamatan Cinangka), Desa Kamasan (Kecamatan Cinangka), dan Desa Curug Agung (Kecamatan Baros) justru berakhir tragis. Bukannya mengalirkan air ke sawah warga, proyek bernilai fantastis ini justru mangkrak, tidak berfungsi, dan diduga kuat dibangun asal-asalan serta tidak sesuai dengan spesifikasi teknis


Berdasarkan hasil investigasi dan laporan dari warga setempat, fisik bangunan sumur bor beserta kelengkapannya memang terlihat berdiri di beberapa titik kelola kelompok tani. Namun, sejak selesai dibangun, infrastruktur tersebut sama sekali tidak bisa dioperasikan. Di beberapa lokasi, mesin pompa tidak mampu menyedot air akibat kedalaman pengeboran yang diduga dimanipulasi dan tidak mencapai titik sumber air tanah yang optimal.


"Kami merasa dibohongi. Sejak awal kami berharap sumur jiat ini bisa menyelamatkan sawah kami saat musim kemarau. Nyatanya, jangankan mengairi hektaran sawah, untuk menghidupkan mesinnya saja airnya tidak keluar. Ini proyek terkesan asal jadi, hanya mengejar serapan anggaran tanpa memikirkan asas manfaat," cetus salah satu tokoh petani di kawasan Baros dengan nada kecewa.


Kondisi serupa juga terjadi di Desa Cikolelet dan Kamasan. Infrastruktur pendukung seperti bak penampung air (toren) dan jaringan pipa distribusi tampak mulai terbengkalai. Dugaan pelanggaran spesifikasi mencuat karena kualitas material yang digunakan—mulai dari pipa, ketebalan beton dudukan, hingga kapasitas daya pompa—ditengarai jauh dari standar operasional yang direncanakan dalam dokumen kontrak kerja.


DJ.Syahrial Deny,S,Ip Direktur Eksekutif DPP Front Pemantau Kriminalitas yang biasa disapa Deny Debus turut angkat bicara dan mengecam keras buruknya realisasi pembangunan proyek Sumur Jiat (Air Tanah) di tiga desa di Kabupaten Serang, yaitu Desa Cikolelet, Desa Kamasan, dan Desa Curug Agung (Kecamatan Baros). Pasalnya, fasilitas publik yang menelan anggaran negara tersebut saat ini sama sekali tidak berfungsi dan diduga kuat dibangun asal-asalan serta tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.


"Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras pembangunan Sumur Jiat di tiga titik tersebut. Uang rakyat yang digelontorkan untuk proyek ini bernilai besar, namun asas manfaatnya nol besar alias mubazir. Masyarakat yang seharusnya terbantu saat kekeringan justru hanya disuguhi tontonan mesin mati dan infrastruktur rongsokan," tegas Direktur Eksekutif DPP Front Pemantau Kriminalitas dalam keterangan resminya.




Untuk itu Deny Debus meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta aparat penegak hukum (Kejaksaan dan Kepolisian) untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh dan audit forensik terhadap proyek JIAT di Kabupaten Serang.


"Ini bukan sekadar keterlambatan atau kendala teknis biasa. Ketika anggaran negara keluar tetapi output fisik di lapangan tidak berfungsi sama sekali, maka patut diduga ada indikasi kerugian negara akibat praktik tindak pidana korupsi. Pihak kontraktor pelaksana, konsultan pengawas, hingga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) yang harus bertanggung jawab penuh. Jangan jadikan nasib petani sebagai ajang bancakan proyek!" tegas Deny Debus.

 


Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas terkait dan kontraktor pelaksana proyek JIAT di tiga desa tersebut masih bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi terkait penyebab mangkrak dan tidak berfungsinya fasilitas vital pertanian ini. Sementara itu, para petani di Cikolelet, Kamasan, dan Curug Agung hanya bisa mengelus dada, menatap sawah mereka yang kering di tengah bayang-bayang kegagalan panen. (Tim Redaksi)


×
Berita Terbaru Update