Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut diikuti 7 guru PAUD dan 32 wali murid siswa. Seminar menghadirkan Ratu Yustika R., M.Pd., DPL KKM 62 UNIBA dan peneliti bidang media pembelajaran interaktif berbasis gender, dan Dr. Hj. Euis Rusmalina, M.M., Ketua HIMPAUDI Provinsi Banten, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu Rama Ilham Ramadhan, Ketua KKM 62 UNIBA.
Seminar tidak hanya diisi dengan pemaparan materi, tetapi juga demonstrasi pemanfaatan AR dalam pembelajaran PAUD. Peserta diperlihatkan bagaimana teknologi dapat menghadirkan objek dan karakter virtual secara interaktif sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan dekat dengan karakteristik anak usia dini.
Melalui AR, anak dapat diperkenalkan pada berbagai profesi dengan representasi laki-laki dan perempuan secara lebih seimbang. Anak dapat memahami bahwa profesi seperti dokter, guru, polisi, pilot, ilmuwan, maupun pemadam kebakaran dapat dijalankan oleh laki-laki maupun perempuan.
DPL KKM 62 UNIBA dan peneliti bidang media pembelajaran interaktif berbasis gender, Ratu Yustika R., M.Pd., menekankan bahwa pembelajaran responsif gender bukan berarti membedakan perlakuan berdasarkan jenis kelamin, melainkan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk belajar, bereksplorasi, dan mengembangkan potensinya.
“Anak laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mengembangkan potensinya. Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua adalah memastikan tidak ada stereotip yang menjadi batas bagi mereka,” ujar Ratu.
Sementara itu, Dr. Hj. Euis Rusmalina, M.M., menilai perkembangan teknologi harus diikuti dengan penguatan kompetensi pendidik agar penggunaannya tetap berpijak pada kebutuhan anak.
“Pembelajaran PAUD harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan dan karakteristik anak. Pemanfaatan teknologi seperti Augmented Reality dapat menjadi media yang menarik, tetapi yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk memberikan pengalaman belajar yang setara bagi anak laki-laki maupun perempuan,” ungkap Euis.
Menurutnya, pendidikan kesetaraan juga tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang anak melalui pola asuh dan kebiasaan sehari-hari.
Kehadiran 32 wali murid dalam seminar tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun pemahaman bersama antara sekolah dan keluarga. Anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari lingkungan rumah, permainan, tontonan, serta pembagian peran yang mereka lihat setiap hari.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, HIMPAUDI, guru PAUD, dan orang tua dalam mendorong pendidikan anak usia dini yang inovatif dan inklusif.
Pemanfaatan AR ke depan juga dapat dikembangkan melalui pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), sehingga anak tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar mengamati, bertanya, mengeksplorasi, memecahkan masalah, dan berkarya.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Guru dan orang tua tetap menjadi kunci dalam memastikan teknologi digunakan untuk mendukung tumbuh kembang anak serta membuka ruang yang setara bagi setiap anak untuk belajar dan meraih cita-cita.(Red)


